be nice, be good and polite

Blog Entryoverjoy stooned (another short storey)Apr 5, '08 6:56 AM
for everyone

Sabtu, 12 January 2008 1:08 AM Cerita dua :

Kondisi : stoned, drink beer, new year night, jazzy music, coffee, smoking, remang2, Halaman Belakang.


Oom Hans menyeruput teh manis dalam cangkir stainless itu dengan hati-hati, tidak ingin lidahnya kepanasan. Lelaki tua itu masih saja stylish seperti masa mudanya, menikmati musik jazz yang ada di sudut teras belakang, duduk di kursi goyangnya mengenakan celana piyama flannel dan kaos oblong favoritnya. Terkadang dia keluar dari rumah yang juga studio gambarnya itu.

Oom Hans yang semangatnya tak pernah tua.

Aku bertemu pria tua itu di parkiran belakang bar yang ada di kota beberapa tahun silam. Dia hendak mengambil chevy tuanya ketika memergokiku yang sedang mencoreti dinding bata itu.

“Hey… kamu!”

Kupikir aku dipergoki dan siapapun itu aku pikir dia marah karena  mencoret-coret dinding itu. Tidak, dia tidak marah.

“Kamu minum beer?”

Dia berjalan ke arah ku sembari membawa dua kaleng beer, berdiri di bawah lampu neon, bersandar pada tiang listrik. Stelan yang dipakainya saat itu adalah jas abu-abu lengkap dengan kemeja putih dan dasi bergaris merah hitam, spatu kulit dengan tali kecil dan topi ala gangster new york tahun 1950an.

“Maunya apa Pak Tua?” aku awalnya sedikit curiga.

“Mau beer?” dia mengulangi pertanyaannya.

Aku berjalan ke arahnya dan menerima tawaran beer itu, “ Terima Kasih…”

Aku melanjutkan proses selanjutnya setelah sketch selesai, fill up some colour.

Kami berdua duduk di parkiran yang sudah sepi itu, di atas bagasi chevy tua itu, perkenalan pertama.

 

Hari ini kami berdua minum beer bersama lagi setelah setahun tidak bertemu. Kali ini kami berada di halaman belakang rumah Oom Hans. Sarapan roti tawar dengan pot butter bikinan si oom sendiri. Rumah Oom Hans sendiri tidak terlalu luas, rumah mungil di ujung jalan buntu itu didiaminya berdua dengan kucing hitam kesayangannya. Hanya sebuah kamar tidur, ruang tamu yang juga difungsikannya sebagai studio, kamar mandi, dan dapur yang terbuka ke halaman belakang. Halaman belakangnya sendiri dikepung oleh dinding belakang sekolah swasta yang tinggi.

Cukup nyaman dan privat bagi kami.

Menyulut selinting ganja dan mengoperkannya padaku. Setelah beberapa kali hisapan, si Oom seperti biasanya mulai ngoceh.

“Gimana kerjaan barumu?”

“Asik sih oom!”

“Asiknya gimana? Kemaren kamu mengeluh kerjanya ga pernah istirahat! 25 hours a day 8 days a week”

“Yah… si oom hiperbolis banget, kmaren ga ngomong gitu deh… hehehe”

“Kemaren wisuda katanya kamu ga datang?” Oom Hans melanjutkan.

“Iya oom, males, itu kan Cuma acara selebrasi dari institusi yang busuk itu!” jawabku sedikit sinis.

“Mulai nih… sombong dan kemakinya keluar kalo mabuk” si oom menyindir.

“Hehe… biarin! Bukannya kampus emang busuk, si oom aja pilih DO kan!” balasku.

“Ya enggak gitu lah… ilmu yang kamu dapet dari kampus berguna ga?” tanyanya.

“50-50”

“Maksudmu?” kejarnya.

“iya oom, kalo boleh malah aku bilang 30-70. soalnya ilmu yang aku dapet dari kampus emang Cuma segitu, yang 70 persen lainnya aku dapet dari hidup di luar kampus”

“O….” mengangguk-angguk, si oom sudah mulai membuat lintingan kedua.

“Kalo dulu aku Cuma belajar serius di kampus dan ga belajar dari oom, dari lingkungan, dari kebiasaan, dan dari semua hal yang ada di alam semesta ini, mungkin di Metropolitan aku Cuma bisa itu-itu aja”

“Emang sekarang kamu bisa apa?” si Oom menyindir dan mulai menyulut lintingan kedua yang lebih besar dari yang pertama.

“Sekarang yang ada di pikiranku ‘do what u can do-do what u hav to do’. Keeping survive aja di Metropolitan yang ganas”

“Selama kamu ga merugikan orang lain kan…” si oom mengingatkan dan menyodorkan lintingannya

“Masih sombong dan kemaki atas karya-karyamu?” lanjutnya saat aku menghisap dalam-dalam asap wangi melalui hidungku.

“Ya masih lah… kalo kita ga membanggakan karya sendiri, gimana temen kita akan bangga akan karya kita, gimana orang lain akan bangga liat karya kita, kalo yang bikin ga pede untuk bilang karyanya yahud…”

“Bukan paling yahud di dunia kan”  si oom kembali menyindir.

“Hahahahaha” kami tertawa bersama.

“Alam semesta dan lingkungan yang memberiku jalan hingga aku bisa seperti sekarang ini oom, aku pasrah dan mensyukuri semua kenikmatan yang aku terima hingga saat ini. Bertemu dengan Oom pun suatu yang sangat aku syukuri”

“Terus pait dan pelajaran keras yang dulu pernah kamu rasakan hingga kamu maki-maki Tuhanmu dan menghujatnya?” si Oom mengingatkan.

“sekarang aku bisa terima itu semua oom, sebagai sebuah keseimbangan dalam hidup, seperti yin yang, segelas manis dan segelas pahit. Cobaan dan tempaan itu semua pula yang menciptakanku dan mengajarkanku untuk hidup” mulutku udah nyocot panjang ga jelas nih. Aku kembalikan batang bara itu padanya.

“yah… kalo dimanjain mulu dari dulu kamu jadinya pemalas…!” tegas si oom sembari menyomot kembali lintingannya dari tanganku.

“Ganja ga bikin males ya oom?” Lanjutku.

“Menurutmu? Selama ini aku males ga? Itu tinggal kamu membawa dirimu gimana…! Apakah kamu yang mengontrol dirimu sendiri atau kamu yang dikendalikan?”





PS: saya nulis pas saya sadar saya mulai kecanduan sama ganja... untungnya saya sadar posisi saya sedang mencandu... maafkan saya.


kiduykikoy wrote on Apr 5
ehem...ehem...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help