be nice, be good and polite

Blog Entryswantenati (a short storey)Apr 5, '08 6:52 AM
for everyone

Selasa, 4 December 2007,

saya beranikan diri menulis cuma saat stonned dan saya merasa saya perlu untuk meng-uploadnya agar tak hanya terbaca oleh saya di dalam layar komputer saya. Ini cerita satu, saya mulai menulisnya pagi tadi di buku kecil catatan saya, baru malamnya saya lanjutkan. ini saya lanjutkan lagi, skrg jam 9.47 PM. Sama seperti tadi pagi, stonned on my table.

SWANTENATI

Artie datang dengan mantel hujan yang basah kuyub. Payung kecil bermotif kotak-kotak merah hitam itu tidak bisa menahan tampias hujan lebat yang berbaur dengan angin. Berbasa-basi mengetuk rangka kayu pintu kaca sebelum masuk. Menggantungkan mantel dan payung. Mengeringkan rambut dan menyambar secangkir cappuccino hangat di meja.

Menghirup wangi creamer, menyeruputnya perlahan. Menarik bangku kayu, membuka pelapis anti debu, jemari mulai menari di deretan balok hitam putih, bersenandung lembut. Jane Monheit –I’m through with love.

Deka menegak sisa bir hitamnya. “nDlogok! Mulai kebelet kencing nih” sekejap dia sudah kembali dari toilet sembari membawa segelas kopi hitam pahit. Bersandar di kursi kerjanya yang nyaman, menyalakan rokok kreteknya. Menikmati hujan yang turun diluar, musik lembut, dan temaram lampu gantung.

“Ini untukmu…” Ujarnya dengan nada datar.

Artie menghentikan tarian jemari di tuts baby grand piano hitam yang ada di sudut ruangan kaca.  Melirik ke arah “Filmbuhne am Steinplatz”.

“Ini yang kau bilang buku perantau itu mas-e?”

Deka hanya mengangguk, “Banyak judul yang laen juga sih. Dah kelar main pianonya?”

Tanpa menunggu jawaban winamp langsung dimainkan. “Rude Boys Don’t Cry – Beduin Sounclash” sisa playlist tadi siang terlalu menghentak untuk sore yang gelap. Menggantinya dengan deretan playlist baru, “Jack Johnson - Banana Pancake” sebagai pembuka.

 

Membuka lembar-lembar awal buku, berebah di sofa di sudut lain ruangan, Lebih nyaman daripada busa tipis bangku piano. Deka berpindah duduk di karpet, di depan sofa putih itu.

“Dek… kalo aku bilang aku cinta kamu… apakah kamu percaya”

“Hmm” Artie tak melepaskan matanya dari novel barunya.

“Dek… aku bicara sedikit serius nih” Deka menoleh ke belakang, asap kretek mengepul ke wajah Artie, sedikit mengusiknya.

“Mas-e dah mabuk ya?”

“Enggak kok, belum, baru sebotol kecil bir”

“Ganja?” cecar Artie.

“Not Today” Artie menolehkan kepalanya, berhadapan dengan Deka dengan jarak yang cukup dekat. “Aku cuma ingin agar kamu tahu” lanjut Deka.

“Tahu apa?” Artie mulai sedikit menanggapinya.

“Ingin kamu tahu bahwa aku mencintaimu!” Tegas Dika.

Artie duduk, membetulkan rok dari baju terusan, melepas sepatu merahnya. meraih cangkir cappuccinonya yang masih hangat. Mencium aroma kopi dan creamer dan menyulut rokok mild mentolnya. Meletakkan buku novel yang hendak mulai dibacanya serius.

Cappuccino buatan Dika memang menjadi favorit Artie, selain ruang kerja Dika yang sangat nyaman.

Hujan masih cukup deras di luar terlihat dari kaca jendela di belakang sofa, sweater rajut berkancing menghangatkan tubuh Artie. “Kamu membuatku memiliki mimpi dengan cerita harapanmu, Kamu memberiku harapan saat aku sendiri, Kamu beriku rumah di saat aku tersesat, Dan kamu berikanku hidup” Dika menyulut sebatang lagi rokok kretek. “Kamu terima aku apa adanya saat kita pertama berjumpa” Lanjutnya.

“Jangan gitu ah, katanya taun depan mau nikah…” Artie sedikit mencoba mencairkan suasana.

“Iya aku akan menikah… tapi aku cinta kamu” ulang Dika.

“Maksudmu aku yang kedua?” Artie sedikit tersenyum bercanda meredakan hati sendiri.

“Tidak ! Tapi aku cinta kamu?” tegas Deka lagi

“Lalu apa?” Artie semakin bertanya-tanya.

“Aku ingin bahagiakanmu” jawab Deka.

Artie terdiam sesaat duduk bersila di sofa, “ Mas-e bikin aku bingung”

“Begitulah adanya,” Deka bersimpuh di karpet.

Artie sedikit menundukkan badannya “Kau selalu beriku bahagia, kau selalu menjagaku.”

“Tidak selalu, aku masih berhutang hidupku padamu”

“Kenapa?”

“Kamu jemput aku dari kematian otakku”

Artie bersandar, meniupkan asap tembakau menthol ke udara “Kau sendiri yang dulu mengenalkan musisi itu padaku.”

 

“Kamu bernyanyi dan dia memainkan gitarnya.

Kau jemput aku kala aku tersesat di surga.

Kamu tak tergantikan” Deka sedikit memburu.

“Bahkan kau tak pernah menyentuhku”

“Kamu terlalu berharga, bukan berarti tubuhmu tak menarik, adalah jiwamu” Mereka saling terdiam…cukup lama.

“Kenapa sekarang?” sambar Artie penuh tanya.

“Karena aku akan mengikat diri besok”

“Kau menyiksaku…” sesal Artie.

“Maaf…” Deka tertunduk. Hujan sudah reda, menjadi rintik lembut embun, bau tanah basah, bulan mengintip di lubang awan.

“Aku cinta kamu” Dika lirih berkata…

“Terima Kasih” Artie mengecup lembut kening Deka.







PS : Swantenati = suara hati (bahasa jawa)
merupakan suara hati yang terdalam dan terpendam, lebih baik dilepaskan, atau diutarakan...
terima kasih

kiduykikoy wrote on Apr 5
gue suka yg ini...
artfrienzy wrote on Apr 5
halah.... ini kan nglanturrrrr
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help